Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama

Apa yang dimaksud dengan perjanjian lama dan perjanjian baru?

Banyak orang salah kaprah tentang perjanjian lama dan perjanjian baru. Perjanjian lama sering dipersepsikan sebagai kitab Kejadian sampai Maleakhi, sedangkan perjanjian baru adalah kitab Matius sampai dengan Wahyu. Tujuan pembagian Alkitab dengan cara membaginya berdasarkan perjanjian lama dan baru sebenarnya didasarkan kepraktisan saja. Perjanjian baru sendiri disahkan oleh meterai darah Yesus. Artinya perjanjian baru dimulai ketika Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu Salib. Sedangkan perjanjian lama (perjanjian pertama) menurut Kitab Ibrani adalah perjanjian antara Orang Israel dengan Allah. Perjanjian ini dibuat setelah mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Perjanjian yang lama ini disebut juga sebagai taurat.  Ingat, perjanjian lama adalah perjanjian yang khusus antara bangsa Israel dengan Allah.

 

Perjanjian pertama (lama) yang dibuat oleh Allah dengan orang Israel dilakukan 2 kali, yaitu di Gunung Horeb dan di tanah Moab.

Inilah perkataan perjanjian yang diikat Musa dengan orang Israel di tanah Moab sesuai dengan perintah TUHAN, selain perjanjian yang telah diikat-Nya dengan mereka di gunung Horeb.  Ulangan 29:1

TUHAN, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb. Ulangan 5:2

Perjanjian yang dibuat Tuhan dengan orang Israel di Tanah Moab berisikan pilihan berkat dan kutuk, sedangkan perjanjian yang pertama kali di Gunung Horeb dikenal sebagai 10 perintah Tuhan. Jadi, Perjanjian yang lama berisikan 10 hukum taurat (keluaran 20)  ditambah dengan perjanjian berkat dan kutuk (Ulangan 28). Tuhan Yesus menyimpulkan intisari taurat itu dalam Matius 22:27-40

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Perjanjian lama (taurat) memiliki cacat permanen, sehingga Allah memperbaharuinya dengan perjanjian yang baru. Apa saja cacatnya ? Sebelum dijelaskan kita akan melihat persyaratan sebuah perjanjian menurut ilmu hukum.

Ada 4 syarat untuk membuat sebuah perjanjian yang  sah secara  hukum. Satu syarat saja tidak terpenuhi, maka perjanjian tersebut batal demi hukum. Adapun persyaratan itu adalah :

1.  Sepakat para pihak yang membuat perjanjian

Sepakat memiliki makna adanya persamaan kehendak atau adanya persamaan kemauan di antara para pihak. Para pihak dinyatakan memiliki kesepakatan apabila kemauan para pihak tersebut terjadi, tidak karena adanya suatu paksaan, adanya suatu penipuan, atau adanya suatu kekeliruan.

2.  Para pihak yang membuat perjanjian telah cakap

Cakap menunjukkan suatu kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum. Seseorang dikatakan cakap apabila orang tersebut telah dewasa, sehat akal pikiran, dan tidak dilarang undang-undang untuk melakukan perbuatan hukum. Seseorang dikatakan telah dewasa apabila orang tersebut telah berusia 21 tahun. Seseorang dikatakan sehat akal pikirannya apabila orang tersebut tidak gila, tidak dungu, tidak terbelakang, tidak boron, dan tidak pemarah. Seseorang dikatakan tidak dilarang oleh undang-undang memiliki makna bahwa orang tersebut oleh undang-undang diperbolehkan melakukan perbuatan hukum. Orang yang tidak boleh melakukan perbuatan hukum, misalnya orang yang telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga atau orang yang dihukum pidana melebihi lima tahun perjara.

3. Memiliki objek tertentu

Objek tertentu dimaknai dengan adanya sesuatu objek yang diperjanjikan. Objek yang diperjanjikan dinamakan prestasi. Prestasi terdiri atas memberi sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu. Prestasi merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh debitur.

4. Kausa yang halal

Kausa dimaknai dengan adanya latar belakang dari suatu perjanjian. Suatu sebab terlarang apabila sebab tersebut bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan.

(sumber indolawcenter.com)

Langsung saja kita lihat syarat ke-2, yaitu  para pihak yang membuat perjanjian telah cakap. Nah, disinilah terletak cacat hukumnya. Pertama, perjanjian ini dibuat oleh dua pribadi yang tidak berimbangan, Allah disatu pihak dan Orang Israel di pihak lain. Satu pihak tidak cakap, yaitu orang Israel. Oleh karena itulah dalam kitab Ibrani dituliskan :

Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua. Ibrani 8:7  

Perjanjian ini lahir karena kedegilan dan kesombongan orang Israel.  Mereka merasa mampu untuk membuat kesepakatan dengan Allah. Ketika firman Allah disampaikan Musa, dengan kesombongannya bangsa Israel menjawab bahwa mereka mampu melakukan semua perintah Tuhan. Allah menghargai kehendak bebas orang Israel, sebab itu Allah mau membuat perjanjian dengan mereka.

Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.” Lalu Musapun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN. Keluaran 19:8

Baru saja mereka berjanji, mereka langsung mengingkari. Dalam hitungan hari mereka sudah melanggar perjanjian dan memberontak kepada Allah dengan membuat patung anak lembu emas untuk disembah !!!

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.”  Keluaran 32:7-8

Kedua, Taurat adalah kudus dan sangat sempurna, tetapi orang Israel adalah bersifat kedagingan.  Orang Israel seumur hidupnya tidak akan mampu memenuhi taurat. Semua manusia di muka bumi tidak akan pernah dapat mentaati taurat.

Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik. Roma 7:12.  Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Roma 7:14

Perjanjian Baru

Perjanjian baru adalah perjanjian yang dibuat antara Allah dengan Yesus, sehingga seluruh isi perjanjian dipenuhi. Tidak ada yang gagal karena Allah dan Tuhan Yesus sempurna. Tuhan Yesus membuat perjanjian dengan Allah mewakili kita yang percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus adalah pengantara perjanjian baru.

Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggara yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.  Ibrani 9:15

Tuhan Yesus mewakili orang percaya di hadapan Allah,  sehingga setiap orang percaya menjadi beneficiary, atau penerima manfaat perjanjian. Misalkan seorang ayah membuat perjanjian (asuransi) jiwa,  maka yang menjadi beneficiary adalah istri atau anak-anaknya.  Ketika sang ayah meninggal, maka manfaat dari asuransi itu akan dinikmati istri atau anak-anaknya.  Tuhan Yesus mewakili orang percaya membuat perjanjian dengan Allah, supaya kita yang percaya kepada-Nya memperoleh manfaat dari perjanjian itu.  Yesus melakukan pengorbanan sebagai bagian dari perjanjian-Nya dengan Allah, bukan untuk kepentingan-Nya, tetapi untuk kepentingan kita, supaya kita hidup dalam segala kelimpahan.

Berita utama dari perjanjian baru.

Berita  utama dari perjanjian baru adalah pengampunan dosa melalui pengorbanan Yesus.

Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Matius 26:28

“Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku. Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” Ibrani 8:10-12

Kematian Yesus di kayu salib memungkinkan setiap orang yang percaya kepada-Nya menjadi kudus selamanya. Bukan satu atau dua hari, satu atau dua bulan, satu atau dua tahun, tetapi selamanya kudus.

Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Ibrani 10:10

Darah Yesus memiliki kuasa  yang memungkinkan kekudusan itu bersifat kekal. Percikan darah domba jantan menguduskan untuk waktu tertentu, tetapi percikan darah Yesus adalah mujijat yang luar biasa, mampu menguduskan secara permanen atau kekal.  Pengorbanan-Nya menempatkan kita  kudus, tak bercela dan tak bercacat  di hadapan Allah :

Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.  Kolose 1:21-22

Posisi rohani kita yang selalu kudus dan sempurna di hadapan Allah membawa dampak kita selalu diberkati (Sudah dan terus diberkati). Oleh karena itu perjanjian baru sering pula disebut sebagai perjanjian berkat.  Perjanjian lama adalah perjanjian berkat dan kutuk, sedangkan perjanjian baru hanya ada perjanjian berkat saja. Mengapa ? Sebab seluruh dosa dan kutuk sudah ditanggung dalam tubuh Yesus di kayu salib. Jadi yang tersisa buat kita hanya ada berkat saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: