Taurat, mengandalkan perbuatan baik

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Matius 7:12

Taurat bukan bukan hanya hukum-hukum yang terdapat dalam kitab-kitab Musa. Taurat bukan hanya 613 hukum. Menurut Tuhan Yesus, motivasi yang dilandasi usaha manusia untuk memperoleh kebaikan adalah Taurat. Bila kita melakukan kebaikan karena alasan supaya memperoleh balasan kebaikan, itu Taurat. Termasuk juga bila kita melakukan sesuatu “untuk Allah” supaya Allah membalas dengan berkat atau kuasa, itu juga taurat.

Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.Galatia 5:4

Allah menghendaki kita hidup di dalam kasih karunia-Nya. Tidak mungkin kita hidup dalam kasih karunia sekaligus dalam taurat. Harus memilih satu. Kalau orang masih percaya kepada prinsip taurat dalam berhubungan dengan Allah, dia keluar dari kasih karunia. Satu hukum dari 613 hukum taurat dijadikan dasar untuk berhubungan dengan Allah, itu lebih dari cukup untuk membuat kita keluar dari kasih karunia.

Mengapa dikatakan keluar dari kasih karunia bila mengandalkan sedikit saja taurat atau perbuatan baik untuk dibenarkan ?

pertama, sedikit saja taurat (1 dari 613 hukum saja)  atau perbuatan baik sebagai dasar pembenaran, berarti kita sedang mengatakan bahwa pengorbanan Yesus masih kurang !!!!

Kedua, tauarat sudah dibatalkan oleh kematian Yesus di kayu salib. Mengapa kita masih menggunakan hukum yang sudah Allah batalkan ?

Advertisements

Taurat

TAURAT

Di dalam Taurat Perjanjian Lama terdapat lebih dari enam ratus hukum, tepatnya diperinci dalam 613 perintah yang diberi istilah 613 Mitsvot. Diharapkan agar orang-orang Israel menaatinya sebagai bukti kesetiaan mereka kepada Allah. Hanya empat di antara tiga puluh sembilan kitab Perjanjian Lama berisi hukum-hukum ini: Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Walaupun ada banyak materi lain dalam setiap buku ini di samping daftar hukum-hukum ini, kitab-kitab ini masih disebut sebagai kitab taurat. Kitab Kejadian, yang tidak berisi suatu perintah pun yang dipandang sebagai bagian dari sistem hukum Israel, secara tradisional disebut kitab taurat juga. Jadi, kita dapat mulai mengerti dengan segera bahwa tidak ada persesuaian yang tepat di antara apa yang kita sebut hukum taurat ( תורה – TORAH) dan apa yang oleh Perjanjian Lama disebut kitab-kitab taurat ( ספר התורה – SEFER HATORAH).

Hal selanjutnya yang menyulitkan gambaran bagi kebanyakan orang Kristen ialah bahwa kadang-kadang kelima kitab yang pertama di Perjanjian Lama, yaitu Kejadian sampai Ulangan, disebut sebagai satu kitab. Misalnya, sesudah kematian Musa, Yosua mendorong umat Israel agar tetap setia kepada Tuhan Allah mereka.

* Yosua 1:8
LAI TB, Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.
KJV, This book of the law shall not depart out of thy mouth; but thou shalt meditate therein day and night, that thou mayest observe to do according to all that is written therein: for then thou shalt make thy way prosperous, and then thou shalt have good success.

Lagi pula, di dalam Perjanjian Baru, kadang-kadang Taurat disebut dalam suatu cara yang menjelaskan bahwa yang sebenarnya dimaksudkan adalah seluruh Perjanjian Lama, karena fungsi kebanyakan kitab Perjanjian Lama umumnya adalah menjelaskan dan menerapkan Taurat yang terdapat dalam Pentateukh.

Akan tetapi, dalam kebanyakan contoh bila Taurat disebut di dalam Alkitab, itu berarti kumpulan materi yang mulai dari Keluaran 20 dan terus sampai ke akhir kitab Ulangan. Bahkan dengan melihat sepintas lalu pada bagian alkitab ini dengan segera kita akan mengetahui bahwa tidak semua yang ada di situ berbentuk perintah. Tetapi mayoritas dari isi dalam Keluaran 20 hingga Ulangan 33 adalah perumusan hukum dan itu sebabnya kita menyebutnya hukum taurat Perjanjian Lama.

Persoalan yang paling sulit bagi kebanyakan orang Kristen berkenaan dengan perintah-perintah ini adalah persoalan hermeneutis, bagaimana perumusan hukum ini berlaku untuk kita, atau adakah itu berlaku untuk kita? Oleh karena hal ini penting sekali, maka kita memulai tulisan ini dengan beberapa pengamatan tentang orang-orang Kristen dan Taurat (hukum-hukum), yang sebaliknya akan membantu dalam pembahasan eksegetis.

I. ORANG KRISTEN DAN TAURAT PERJANJIAN LAMA

Jikalau Anda seorang Kristen, apakah Anda diharapkan untuk menaati hukum taurat Perjanjian Lama? Jika memang demikian, bagaimana mungkin Anda dapat membersembahkan korban seperti daging binatang (Imamat 1 – 5)? Sebenarnya, jika Anda membunuh dan membakar binatang seperti yang dipaparkan dalam Perjanjian Lama, mungkin Anda akan ditahan karena kekejaman terhadap hewan! Tetapi jika Anda tidak lagi diharapkan untuk menaati taurat Perjanjian Lama, mengapa Yesus mengatakan, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Matius 5:18)? Pertanyaan ini memerlukan jawaban, suatu jawaban yang menuntut kita melihat cara taurat Perjanjian Lama. Apakah masih merupakan tanggung jawab yang diwajibkan pada orang Kristen, yaitu cara-cara kita masih diwajibkan untuk menaati setiap atau semua perintah dalam Keluaran 20 hingga Ulangan 33?.

Ada enam garis pedoman awal yang disarankan untuk mengerti hubungan orang Kristen dengan taurat Perjanjian Lama. Garis-garis pedoman itu sendiri dimaksudkan untuk membantu kita menyesuaikan diri ke arah penghargaan yang semestinya terhadap Taurat.

Continue reading

Ini Juga Taurat !!!

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Matius 7:12

Kadang kita mendengarkan kotbah yang sangat indah tentang pergaulan. Kita diajarkan untuk melakukan kebaikan supaya mendapatkan kebaikans sebagai balasannya. Lalu apa bedanya dengan hukum karma ? apa bedanya dengan konsep agama-agama di dunia. Mereka juga mengajarkan hal yang sama ” berbuat baik kepada orang lain, supaya orang lain membalas dengan kebaikan. Agama-agama di dunia memang memiliki konsep mirip dengan taurat; fokus kepada perbuatan baik supaya mempeoleh balasan kebaikan.

Kasih Karunia :

Kita berbuat baik karena telah mengalami kebaikan Tuhan terlebih dahulu. Kita melakukan  perbuatan baik bukan supaya memperoleh balasan kebaikan, tetapi karena kasih Allah yang melimpah-limpah.  Sama seperti Bapa berbuat baik kepada semua orang (baik ataupun jahat), kitapun berbuat baik tanpa mengharapkan balasan.